Terima Kasih

Download

“Seperti yang telah ramai diperbincangkan di media sosial, desas-desus obrolan, dan ruang-ruang formal, isu mengenai siaran yang muncul dari Xpose Uncensored Trans7 patut diacungi jempol karena mereka telah jujur pada dirinya sendiri untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Bagi para awak media informasi seperti Trans7 teruslah berkarya seperti yang telah dilakukan selama ini. Dari adanya hal yang terjadi, tentu tidak terlepas dari tujuan yang baik, terlepas dari metode dan respon yang sangat relatif tergantung dari latar belakang. Pastinya, tidak terlepas dari salah dan luput, maka teruslah berevaluasi untuk kebaikan bersama. Bagi para pegiat pesantren, seluruh unsur yang ada didalamnya, lanjutkanlah api perjuangan kalian, ambil langkah-langkah yang dapat membangun dengan tujuan Indonesia yang lebih indah. Sekali lagi, manusia tidak akan terhindar dari kata salah, bangkit dan terbanglah menuju Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Terima kasih untuk para aktivis pesantren, terkhusus pendemo yang turun unjuk aksi di depan kantor Trans7, tentunya kalian ingin mewakili perasaan dan uneg-uneg para santri. Terima kasih untuk struktur kepengurusan Trans7 karena telah menerima dan berdialog dengan lapang dada untuk berdiskusi dengan pihak-pihak pesantren.

Sebagai refleksi, seseorang yang sukses menjadi pengusaha mungkin tidak mau menghilangkan cerita kelamnya ketika diberi kesempatan untuk mengulang waktu. Karena mungkin saja, cerita kelam tadi merupakan fenomena yang menjadi acuan dia menjadi sukses di kemudian hari seperti hari ini.”

Ungkapan diatas merupakan buah perasaan dan pemikiran yang muncul dari benak penulis. Perlu dijelaskan kembali, bahwa konteks yang terjadi adalah tim media Xpose Trans7 telah menayangkan video yang bagi para pegiat pesantren sangat memberikan kesan yang tidak beretika. Secara spesifik, dalam acara Uncensored yang ditayangkan di siaran tv Trans7 mengatakan bahwa adanya tindakan yang secara intrinsik melukai martabat kemanusiaan yang mempunyai karakter kesederajatan. Dalam tayangannya, narator Uncensored mengatakan bahwa “jalan jongkok untuk mendapat susu” dengan video yang berisi para santri mengantri susu yang dibagikan dengan cara jongkok. Hal ini menurut media, merupakan pencideraan terhadap nilai-nilai kemanusiaan karena masih adanya tingkah-laku dengan prinsip feodal di lembaga pendidikan keagamaan. Feodal disini yang dimaksud adalah adanya sikap hirarkis yang menimbulkan penindasan, eksploitasi, dan perbudakan terhadap kaum yang memiliki status sosial di bawahnya.[1]

Dalam kasus ini, komunitas pesantren yang berlatar belakang nilai dan pengalaman yang berbeda, melihat tayangan tersebut dari sudut pandang yang berlawanan. Apa yang dianggap oleh pihak media sebagai kejujuran kritik diterima sebagai sebuah serangan, penghinaan, atau generalisasi yang tidak adil. Perasaan seperti ini hadir karena para santri merupakan sosok yang dididik menjadi seseorang yang piawai dalam menghormati jasa seorang tokoh yang membawa jiwa spiritualitasnya menuju entitas yang lebih prinsipil. Seperti yang telah masyhur di kalangan para santri bahwa sahabat Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengungkapkan bahwa “Aku adalah hamba seseorang yang telah mengajariku walaupun hanya satu huruf”.[2]Ungkapan seperti ini telah dimaknai ulang prinsip idealnya oleh kalangan para santri dengan mengartikan sebagai penghormatan penuh terhadap pada sosok guru tanpa menutup kemungkinan adanya kritik yang diberikan oleh berbagai kalangan baik santri sendiri maupun tidak.

Selanjutnya mari kita bedah melalui pemikiran dialektika yang telah dirumuskan oleh George Willhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Singkatnya, Hegel merupakan seorang filsuf Jerman yang mengemukakan ide utama dari mesin penggerak pemikiran yang biasa dikenal dengan teori dialektika. Konsep dialektika merupakan sebuah sistem yang terus bergerak dan berkembang melalui sebuah proses konflik dan resolusi. Ada tiga acuan dalam memproyeksikan dialektika, yakni Tesis yang merupakan sebuah ide atau kondisi awal, Antitesis sebagai ide yang berlawanan dari ide awal, dan Sintesis yang merupakan sebuah level pemahaman atau kondisi baru yang lebih tinggi dengan mengambilkan kebenaran dari tesis dan antitesis. Proses dengan sistem seperti ini terus-menerus bergerak menuju solusi yang terus diperbarui dan dianggap hampir mencapai kebenaran.[3]

Maka dapat diambil pemahaman bahwa tayangan acara Uncensored hadir sebagai sebuah produk jurnalistik dengan tujuan yang memegang nilai dan prinsip kejujuran. Dari sudut pandang acara tersebut, tayangan ini merupakan sebuah tesis yang berusaha mengungkap fakta demi kebaikan yang lebih besar karena telah berdiri sebuah kenyataan objektif yang hadir untuk publik. Dari sudut pandangan santri, aksi pertentangan yang muncul merupakan antitesis dari kondisi tersebut. Pertentangan ini adalah momen penegasian para santri yang secara tidak langsung berkata, “tidak, kami tidak menerima kebenaran versi anda”. Hal ini ditunjukkan karena kebenaran menurut para santri adalah bagaiman perilaku yang terjadi merupakan framing media yang menganggap ketiadaan moral kemanusiaan bukanlah sesuatu yang sebenarnya terjadi, melainkan hal tersebut merupakan etika tertinggi bagi para murid yang senantiasa menghormati gurunya. Sehingga pada tahap ini, kebenaran menjadi terpolarisasi yang terbagi menjadi tesis dan antitesis.

Selanjutnya adalah proses sintesis sebagai resolusi dengan kebenaran yang lebih tinggi. Sintesis bukan sekedar sebuah dialektika kompromistis yang menggabungkan dua pemahaman menjadi satu, melainkan mengambil pemahaman baru dari elemen-elemen kebenaran dari tesis dan antitesis. Alih-alih membawa hal ini pada hal yang bersifat saling menghancurkan, sebaiknya ketegangan atau konflik ini mendorong kedua belah kebenaran menuju resolusi yang lebih tinggi. Maka dari itu, pemahaman baru yang perlu ditekankan bagi media adalah kebebasan berekspresi dan fungsi kontrol sosial harus diimbangi dengan tanggung jawab, empati, etika jurnalistik, dan pemahaman yang komprehensif terhadap seluruh perkara yang diliput di dalam maupun luar negeri. Sedangkan bagi pesantren, perlu adanya kesadaran untuk membuka langkah-langkah konstruktif seperti menerima kritik dan dialog terhadap dunia luar untuk perkembangan lembaga pendidikan Indonesia. Sehingga sintesis yang didapatkan adalah sebuah kesadaran bersama bahwa kemajuan dapat dicapai melalui adanya tujuan “baru” yang melampaui kepentingan masing-masing pihak, yakni kebaikan bersama sebagai instansi di bangsa Indonesia.

Dengan demikian, teruntuk awak media, teruslah berkarya dan jadikan media menjadi informasi yang lebih mendidik untuk kebaikan generasi bangsa Indonesia, serta kesampingkan kepentingan-kepentingan pribadi hanya untuk mendapat insight atau adsense yang lebih banyak. Dan teruntuk pesantren, lanjutkanlah perjuangan kalian dalam memenuhi amanat bangsa Indonesia sebagai lembaga pendidikan agama yang berpegang teguh pada prinsip “adab diatas ilmu” dan berikan kesan pada masyarakat Indonesia bahwa Islam merupakan agama yang rahmatan li al-‘alamin, serta lebih sadar dan peka bahwasanya manusia merupakan yang makhluk yang tetap melakukan kesalahan di dunia ini.

Picture of Ali Assyakir

Ali Assyakir

"London is Blue"

All Posts
Stay up to date

Latest Posts