Yogyakarta – Menjelang puncak Haul ke-37 Almaghfurlah KH. Ali Maksum, para alumni Komplek H Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum menggelar acara silaturahmi bertajuk “Temu Roso: Ngguyub Rasa, Nguri-Nguri Paseduluran”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Komplek H pada Jumat (31/10/2025) pagi, mulai pukul 13.00 WIB, setelah pelaksanaan salat Jumat.
Berbeda dengan acara Temu Alumni Pondok Pesantren Krapyak yang digelar malamnya pukul 20.00 dan dihadiri seluruh alumni lintas komplek, Temu Roso disusun sebagai forum yang lebih intim bagi para alumni Komplek H untuk mengenang sosok KH. Ali Maksum. Adapun puncak Haul ke-37 KH. Ali Maksum akan diselenggarakan pada Sabtu, 1 November 2025.
Acara Temu Roso dibuka dengan sambutan dari KH. Afif Muhammad, selaku Pengasuh Komplek H dan cucu dari KH. Ali Maksum. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara serta ucapan terima kasih kepada seluruh alumni yang hadir.
“Acara ini bisa berlangsung karena kerja keras panitia,” ujar KH. Afif. Ia menegaskan bahwa semangat gotong royong dan kekompakan menjadi kunci keberhasilan penyelenggaraan silaturahmi ini.
Sesi berikutnya diisi dengan napak tilas sejarah Krapyak oleh KH. Zuhdi Muhdlor, alumni periode 1977–1988. Beliau mengenang suasana pondok pada masa lalu, saat bangunan “gedung kembar” yang kini menjadi ikon Komplek H masih berupa pemukiman warga Yogyakarta. Gedung tersebut, kata KH. Zuhdi, dibangun menjelang akhir hayat KH. Ali Maksum.
Secara historis, Pondok Krapyak sempat mengalami masa kosong pasca wafatnya KH. Munawwir. Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan, delegasi Krapyak beberapa kali mengutus rombongan ke Lasem guna memboyong KH. Ali Maksum. Setelah situasi pondok kembali stabil dan Indonesia merdeka pada 1945, para santri mulai berdatangan kembali. Saat itu, putra-putri KH. Munawwir yang telah dibimbing langsung oleh KH. Ali Maksum juga telah siap meneruskan estafet kepemimpinan pesantren.
Selain memimpin pondok, KH. Ali Maksum juga dikenal aktif sebagai akademisi dengan mengampu mata kuliah Ilmu Tafsir di Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta.
Kehidupan santri di masa kepemimpinan KH. Ali Maksum dikenal dengan rutinitas keilmuan yang padat. Setiap malam selepas Maghrib, beliau menggelar pengajian kitab Riyadus Shalihin, sedangkan selepas Subuh, santri melaksanakan sorogan yang diawali dengan lantunan Asmaul Husna, tradisi yang masih berlangsung hingga kini.
Santri diberi kebebasan memilih kitab yang akan dibaca saat sorogan. KH. Purnomo, Lurah pertama Komplek H, mengenang KH. Ali Maksum sebagai sosok kiai besar yang rendah hati dan sangat dekat dengan santri. “Beliau tidak pernah memperlakukan dirinya sebagai kiai besar. Hampir semua santri pernah masuk ke kamar pribadi beliau,” kenangnya.
Di sisi lain, KH. Nilzam Yahya menyoroti sifat beliau sebagai ahli silaturahim dan suka membantu santrinya. Ajaran beliau tentang pentingnya kesehatan santri sebelum belajar juga ditekankan oleh KH. Nilzam Yahya.
Selain dikenal sebagai ulama berilmu tinggi, KH. Ali Maksum juga masyhur sebagai tokoh yang menanamkan nilai toleransi dan kepedulian sosial. KH. Purnomo menceritakan bahwa setiap bulan Ramadan, seluruh santri diterjunkan ke berbagai kampung untuk memimpin salat tarawih.
Dalam kesempatan itu, KH. Ali Maksum berpesan agar para santri menyesuaikan jumlah rakaat tarawih dengan tradisi masyarakat setempat, namun tetap menjaga ketentuan dua rakaat-dua rakaat. Sikap ini mencerminkan kelapangan pandangan beliau dalam mengajarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Rangkaian Temu Roso ditutup dengan doa bersama dan makan bersama seluruh peserta sebagai simbol eratnya ngguyub rasa dan paseduluran antaralumni Komplek H Pondok Pesantren Krapyak.
Melalui kegiatan ini, para alumni diharapkan dapat terus meneladani semangat keilmuan, kebersahajaan, dan toleransi yang diwariskan KH. Ali Maksum, sekaligus mempererat tali silaturahmi lintas generasi dalam satu ikatan keluarga besar Krapyak.
Pewarta : Rizki Hidayatullah
Editor : Fuji Gilang Rahmatullah