Batas Kekuatan Media: Analisis Kegagalan “Pertarungan Ethos” Xpose Uncensored

Download

Tayangan “Xpose Uncensored” pada 13 Oktober 2025 memicu kontroversi karena menggunakan retorika manipulatif untuk membingkai pesantren. Alih-alih berhasil, program ini justru menjadi bumerang yang memicu perlawanan sengit, mulai dari viralnya tagar #BoikotTrans7 hingga demonstrasi oleh ribuan alumni dan anggota KBNU se-Jabodetabek. Kegagalan total ini dapat dianalisis sebagai sebuah “pertarungan ethos”, di mana kredibilitas media tidak mampu menandingi legitimasi sosial dan spiritual figur kiai yang telah mengakar. Perlawanan komunitas ini merupakan manifestasi dari “pembacaan oposisional”, di mana mereka secara aktif menolak narasi media. Tulisan ini akan membedah kegagalan strategis tersebut dengan menggabungkan teori retorika ethos dari Ibn Rusyd[1] dan Teori Resepsi Stuart Hall[2] untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa audiens melakukan perlawanan dan pada akhirnya menggagalkan persuasi media.

Strategi Persuasi Xpose Uncensored dan Perlawanan Audiens

Tayangan Xpose Uncensored secara efektif menggunakan perangkat retorika (khitābah) klasik untuk mempersuasi audiens umum (jumhūr) yang cenderung lebih responsif terhadap narasi emosional. Pilar utama yang dieksploitasi adalah pathos (bujukan emosional), yang dibangkitkan melalui visual santri “jalan jongkok” untuk memicu iba, serta narasi kontras manipulatif antara citra penderitaan santri dan kemewahan kiai untuk menyulut kemarahan. Gaya narator yang mencibir juga turut mengajak penonton untuk meremehkan objek liputan. Meskipun terlihat logis, argumennya dibangun di atas logos-semu, terutama melalui generalisasi yang tergesa-gesa dengan mengajukan pertanyaan provokatif “Emang gini kehidupan pondok?” untuk menyiratkan bahwa beberapa kasus mewakili keseluruhan. Terakhir, program ini berusaha membangun ethos (kredibilitas)-nya sendiri dengan menggunakan nama “Xpose Uncensored” dan memposisikan diri sebagai pembela “korban”, sehingga audiens lebih mudah menerima narasi yang disajikan.

Strategi persuasi Xpose Uncensored gagal total ketika berhadapan dengan audiens internal (komunitas pesantren) karena mereka kalah telak dalam pertarungan ethos“. Kredibilitas artifisial yang coba dibangun media sebagai “jurnalis investigatif” tidak mampu menandingi ethos dari figur kiai yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun melalui legitimasi keilmuan, spiritual, dan sosial. Akibatnya, komunitas pesantren secara otomatis melakukan pembacaan oposisional, di mana mereka secara aktif menolak narasi media dan menganggapnya sebagai fitnah. Apa yang oleh media dibingkai sebagai “penderitaan” atau eksploitasi, oleh para santri ditafsirkan ulang sesuai pemahaman internal mereka sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter. Kegagalan ini pada dasarnya adalah kesalahan strategis media yang meremehkan ikatan komunal dan loyalitas audiens terhadap figur yang mereka hormati, membuktikan bahwa persuasi tidak akan berhasil jika sumber pesan tidak lebih dipercaya daripada keyakinan yang sudah ada.

Kesimpulan

            Kasus framing pesantren oleh tayangan “Xpose Uncensored” menjadi sebuah studi kasus definitif tentang batas-batas kekuatan media. Meskipun secara teknis mahir dalam menggunakan perangkat retorika (khitābah) klasik untuk mempersuasi audiens umum, strategi ini gagal total dan menjadi bumerang karena kesalahan fundamental dalam “manajemen risiko” sosiologis: menyerang figur dengan ethos yang terlampau kuat. Kredibilitas artifisial yang coba dibangun media hancur ketika berhadapan dengan legitimasi sosial dan spiritual seorang kiai yang telah mengakar puluhan tahun di komunitasnya. Kegagalan ini memicu pembacaan oposisional dari komunitas pesantren, yang secara aktif menolak narasi media dan menganggapnya sebagai fitnah—sebuah perlawanan yang termanifestasi dalam aksi boikot digital dan demonstrasi fisik. Pada akhirnya, kasus ini membuktikan bahwa persuasi media bukanlah proses satu arah yang absolut; ia dapat dimentahkan oleh agensi audiens, solidaritas komunal yang solid, dan benteng kepercayaan yang kokoh.


[1] Ethos adalah istilah retorika yang mengacu pada kredibilitas dan legitimasi yang bersumber dari karakter pembicara. Dalam analisis Ibn Rusyd, ethos menjadi pilar persuasi ketika audiens percaya pada si pembicara. Kredibilitas ini dibangun dari dua komponen utama: pertama, kebajikan diri (فضيلة النفس), yaitu kualitas moral dan integritas yang membuat seseorang layak dipercaya. Kedua, penampilan atau sikap (السمت) yang meyakinkan, seperti ketenangan dan kewibawaan yang terpancar. Dalam kasus ini, ethos dari figur kiai yang diserang oleh media terbangun kokoh dari kedua elemen tersebut, yang telah diakui oleh komunitasnya selama bertahun-tahun. Lihat Ibn Rusyd, Talkhīṣ al-Khiṭābah, ed. oleh ‘Abd al-Rahmān Badawī (Wakālah al-Maṭbū’āt dan Dār al-Qalam, t.t.), 17.

[2] Teori Resepsi Stuart Hall, yang dijelaskan dalam model “Encoding/Decoding”, menyatakan bahwa audiens bukanlah penerima pesan media yang pasif. Sebaliknya, produsen media “mengkodekan” (encoding) makna dominan ke dalam sebuah tayangan, tetapi audiens secara aktif “membaca” (decoding) makna tersebut berdasarkan latar belakang sosial dan budaya mereka. Proses ini dapat menghasilkan tiga kemungkinan posisi pembacaan: dominan (menerima pesan sepenuhnya), negosiasi (menerima sebagian sambil membuat pengecualian), atau oposisional (memahami makna yang dimaksud tetapi secara sadar menolaknya dan menafsirkannya dari sudut pandang yang berlawanan). Lihat Stuart Hall, “Encoding and Decoding in the Television Discourse,” Monograph, SP 7, University of Birmingham, September 1973, 16–18, https://epapers.bham.ac.uk/id/eprint/2962/.

Picture of Rizki Hidayatullah

Rizki Hidayatullah

All Posts
Stay up to date

Latest Posts